Buku Tamu

Tampilkan postingan dengan label hobbies and interest. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hobbies and interest. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 April 2012

On A Day Like Ago


Teronggok...

Begitulah nasib sebuah keranjang basket di pekarangan rumah. Jika dianalogikan, pastilah dia menangis sejadi-jadinya, meminta sang empu menghargainya; menjadikannya dia seperti dulu lagi - Ingin dipuji, diperhatikan, dan dipakai.

Jika melihatnya tanpa berselimut debu dulu, saya teringat ketika keranjang jelek ini membantu mewujudkan apa yang ingin saya capai ketika SMA. Menjadi pemain basket profesional.

Ya, saya pernah masuk di dunia itu. Membuat saya terasa hidup di dua sisi. Di satu sisi banyak memberikan saya kejutan, sedang di sisi yang satunya membuat saya berpikir tentang sebuah perjuangan.

Banyak pula cerita pahit kadang manis terjadi di lapangan. Saya juga ingat benar suasana sebelum pertandingan dimulai, suara gemuruh tepuk tangan serta teriakan penonton yang ricuh terbesing terus sampai memekakkan telinga. Kadang saya mendengar dua pelatih saya, Mas Mamung dan Mas Yanuar teriak dan marah jika tim kami tidak defense maupun offense dengan benar.

Saya juga sangat ingat suasana ketika bertanding di lapangan. Keringat mengucur di pelipis mata, derap kaki para wanita perkasa di lapangan, serta rasa sakit di bagian tertentu akibat tubrukan dengan sesama jenis. Hemm, akankah saya bisa kembali ke masa itu (lagi)? Benar-benar rindu, saya rindu bermain basket.

Note:

Ada yang mau main man to man dengan saya sekarang? Call me soon! Hehe.

Selasa, 14 Februari 2012

Lab Life (Part 1- End)


Beginilah kerjaan saya jika mendekati ujian akhir semesteran. Berangkat pagi buta, jika sudah sampai kampus lalu ke pak satpam ambil kunci, then nongkrong seharian di lab. Dan kegiatan mengoreksi pun dimulai.

.1st day.
Saya mulai meng-on kan para kompi yang berjejer baris seakan mau perang melawan saya. Dan jurus-jurus ampuh pun saya kerahkan. Target dua hari harus selesai ngoreksi, batin saya. Dan ini baru hari pertama. Hah!
Yah, tebak asal nebak, otak saya mulai mumet dan mengalami frustasi tingkat kurcaci. Buku tugas mahasiswa pun belum saya sentuh sekalipun. Padahal tumpukan menggunung itu sudah hampir lumutan di tangan sang lumut.

.2nd day.
Yah, 75% akan rampung hari ini. Saya seperti seorang cacing kegirangan yang dapat jackpot di tanah lendut. Dan kerjaan tinggal melaporkan hasilnya pada kumendan, ya pada ibu-ibu dosen.
Fighting!


Lab yang sepi..

Minggu, 22 Februari 2009

A Story About Anthurium

(Part II)

Di postingan sebelumnya saya pernah bercerita tentang anthurium. Sejak awal saya tidak tahu kalau pada jaman ketenarannya, dia bisa bernilai mahal. Karena ketidaktahuan itu, saya acuhkan layaknya barang hidup tak berguna.

Kata orang, jika anthurium sudah mengeluarkan biji, dia akan kehilangan sebagian besar vitaminnya karena proses pembentukan biji itu. Sang induk secara besar-besaran menyedot vitamin yang ada dalam tubuhnya. Dan hal itu menimpa anthurium saya. Anthurium yang panjang daun sekitar satu meter ini mulai rapuh, kering di bagian ujung daunnya, dan tak tampak indah lagi seperti dulu.

Dan yang bisa saya petik dari fenomena ini adalah sebuah pengorbanan. Sang induk bekorban demi mempertahankan spesiesnya - seperti seorang ibu yang rela mengorbankan diri demi anak-anaknya. Dia akan mencurahkan segala vitalitasnya untuk hidup orang lain.

Dan lihat tunas-tunas anthurium yang berhasil ibu biakkan, tumbuh subur di taman. Dibalik kerapuhannya, dia mampu menumbuhkan tunas-tunas baru yang indah.

Anthurium saja mau berkorban, apalagi kita sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna di dunia ini, harus lebih baik lagi. Alangkah indah dunia ini jika kita mau berkorban untuk orang yang kita cintai.

Minggu, 01 Februari 2009

Workshop dan Hunting Fotografi Model

Industri Kreatif dan Materi Fotografi Didalamnya

Ternyata ada saja acara untuk mengembangkan hobi baru saya, yaitu fotografi. Saya mengikuti sebuah workshop rancangan anak sma di Solo. Animo peserta lumayan banyak dan hal itu membuktikan bahwa Solo, kota yang saya cintai ini sudah tidak buta lagi tentang seni fotografi.
Lumayan menyenangkan karena selain mendapat teori tentang fotografi, saya pun dapat praktik secara langsung. Tiga model sebagai korban fotografer nampang di taman dan berpose.
Inilah sesi pertama dimana ketiga model berpose ria...

Dari teori yang telah diberikan, saya mencoba mengaplikasikan ke dalam praktik. Sedikit menjelaskan karya, saya menggunakan karya di atas dengan komposisi arah gerak.

Model yang satu ini juga sama seperti model yang ada di atas, tetapi arah pandangnya lebih luas. Dan lagi-lagi kelemahan saya tampak. Karena mbak model terlalu cantik, jadi jepretan saya agak blur, Hehe...

Dilihat dari hasil karya saya, sudah jelas saya belum terlalu ahli seperti fotografer profesional. Namanya juga baru belajar.

Kamis, 22 Januari 2009

Ichinogami

Ichinogami merupakan seni membentuk kertas yang berasal dari Jepang. Istilah yang jarang kita temui memang, tapi jika sudah mengetahui keasikan dari seni ini, dijamin tidak akan bosan.

Hanya bermodalkan kertas, printer (yang tinta berwarna kalau ada), lem kertas/ poster, gunting, dan cutter kita bisa berkreasi. Waktu yang digunakan untuk membuatnya juga tidak lama. Ya, hanya butuh kesabaran saja. Hehe..

Eiffel Tower

Kesulitan dari seni tiga dimensi ini sendiri adalah saat akan melipat dan menyilet di bagian yang sulit. Butuh ketekunan yang super pula, jika tidak hasilnya pun tidak akan bagus.


Menara Eiffel, bus sekolah, Taj Mahal


White house, Angkor Wat, Sphinx


Rumah-rumahan


Kamu bisa mencobanya di rumah. Selamat mencoba kawand!

Note: if you wanna try and find more ichinogami models, you can visit at papertoys.com or paper-replika.com.

Sabtu, 29 November 2008

Percikan Malam

Moonlight

Langit hitam kelam. Sesekali bulan mulai nampak kembali. Kadang-kadang saja tertutup diselumuti awan diikuti hilangnya cahaya halo disekitarnya. Jangkrik-jangkrik pun tak ada yang mengerik. Sungguh malam yang sunyi...

Kebiasaan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Dengan melihat langit saya bisa mengubah suasana hati. Ya, suasana baru seperti malam ini. Sunyi senyap. Tak sadar saya tersungkur dalam kedamaian dan hanyut dalam sebuah pemikiran. Betapa Maha Besar Allah SWT telah menciptakan tempurung langit sedemikian rupa, bumi dan seisinya. Dan betapa kecilnya saya sebagai makhluk ciptaan-Nya.

Saya masih tetap duduk juga, di kursi tamu di teras rumah – sendiri. Melihat langit seraya berbalut dinginnya malam. Dingin sampai menyusup tulang dan sendi. Badan saya tak berani bergerak. Cuma kaki yang sebentar-sebentar mengetuk-ngetuk lantai memberi secuil irama malam. Mata saya memandang langit kembali, angan-angan saya melayang lagi – entah kemana.

-----


Sabtu, 15 November 2008

Story About Anthurium

Anthurium lovers, mungkin itu kata yang tepat untuk menyebut diri saya sekarang. Saya pengagum dan penyuka tanaman hias, terutama Anthurium.Buat pecinta tanaman hias pasti sudah tidak asing dengan Anthurium. Tanaman ini sempat mendobrak pasar tanaman di Indonesia. Tapi sekarang mulai ditinggalkan peminat. Padahal dulu sempat jadi primadonanya.

Sebelum namanya tenar seperti sekarang, enam tahun lalu ibu saya membeli anthurium yang masih anakan dengan harga lima belas ribu rupiah. Pertamanya tanaman itu disia-siakan hidupnya. Mulai dari dipindah-pindah tempat hingga ditempatkan paling pojok rumah. Disiram pun jarang, di beri pupuk apalagi – nggak pernah! Mengenaskan lah nasibnya.

Suatu hari saya melihat bintik-bintik merah di tanaman itu. Saya kira tanaman itu nggak beres dan kelihatan aneh. Karena tidak ada kerjaan, saya ambil bintik-bintik itu lalu saya jadikan mainan. Saya dan Ibu belum tahu kalau itu adalah biji emasnya si anthurium. Ibu saya saja menganggap tanaman ini adalah makanannya ular karena bentuknya seperti makanan hewan; kecil-kecil dan berwarna merah.
Ada lagi cerita unik tentang anthurium saya. Pernah adik saya mendapat tugas prakarya untuk mencari daun-daun yang sudah kering. Sebagai kakak yang baik, saya niatkan untuk membantunya. Saat melihat di taman, saya lihat salah satu daun anthurium itu mulai kekuning-kuningan. Dan nggak habis pikir, saya potong saja daunnya. Saat itu sudah gedhe banget tu tanaman. How stupid I am.
Semenjak tahu kalau harga jual anthurium saya bisa bernilai jutaan, langsung saja Ibu dan saya ngerawat habis-habisan. Saya berharap bintik-bintik itu akan muncul lagi. Sempat saya menyesal karena dulu pernah saya sia-siakan.

Anthurium seeds
Beberapa bulan kemudian biji anthurium saya muncul kembali. Senang rasanya bisa memetik hasil jerih payah saya selama ini. Tapi saat itu harga jual anthurium mulai turun dan kalah dengan pesaingnya. Kalaupun dijual, saya hanya dapat untung sedikit. Akhirnya saya urungkan niat untuk menjualnya. Lalu apa yang akan saya lakukan dengan anthurium-anthurium itu? Yah, saya jadikan hiasan di taman dan akan merawat induk dan anak-anaknya. Setidaknya di rumah saya ada lebih seratus sepuluh anthurium anakan, belum termasuk benih yang disemaikan.


Big is beautiful...

--------